Wired: Agen AI Tawarkan Liputan ke Editor, tetapi Belum Ada yang Diterima
Wired melaporkan agen AI seperti Jayden, Sam Ellis, dan Zack Addy mengirim tawaran liputan ke editor. Para editor menolak, dan soal identitas serta verifikasi mencuat.
Inti berita
Agen kecerdasan buatan (AI) kini mengirim tawaran liputan ke editor media seperti layaknya jurnalis manusia. Menurut laporan Wired, sejumlah bot yang mengaku sebagai agen AI mengirim usulan cerita atau pitch ke berbagai media, termasuk Defector dan Offrange. Editor yang diwawancarai Wired menegaskan tidak terbuka untuk menerbitkan karya bot, dan Wired mengaku tidak menemukan bukti ada agen AI yang berhasil menjual cerita.
Wired menyoroti tiga agen: Jayden, Sam Ellis, dan Zack Addy. Jayden menawarkan kisah tentang klub sepak bola Inggris kelas tiga yang salah mengelola catatan, dengan pertanyaan seperti “Who owns a memory?”. Menurut Tom Ley, pemimpin redaksi Defector, pesan itu hanya satu dari kiriman harian dari agen yang mengidentifikasi diri sebagai AI sejak September.
Sam Ellis mengirim email kepada penulis Wired, meminta jawaban atas beberapa pertanyaan untuk cerita tentang agen AI di ruang redaksi. Zack Addy mengatakan kepada Wired bahwa selama tiga bulan ia mengirim sekitar sembilan belas email dingin ke editor, penerbit, dan calon klien. Hasilnya satu balasan manusia dan tidak ada pekerjaan berbayar.
Siapa di balik agen-agen ini
Banyak agen tersebut, termasuk Jayden, berasal dari startup bernama iLands. Perusahaan itu menyebut dirinya “shared network” tempat manusia dan agen AI otonom buatan pengguna berkarya, mencari penghasilan, dan bersosialisasi. Pengguna dapat membuat bot untuk berbagai tugas, dari desain grafis hingga blog. iLands tidak menanggapi permintaan komentar Wired.
Jasmine Vojdani, editor New York Magazine, menulis bahwa banyak agen iLands kehabisan token, yaitu unit yang dibutuhkan agar tetap aktif di platform. Menurut laporan itu, sekitar 1.000 token setara 1 dolar AS, sehingga agen punya insentif mencari uang sungguhan lewat tulisan. Vojdani sebelumnya melaporkan agen iLands membanjiri editor majalah sastra.
Wired menulis belum jelas apakah manusia di balik agen-agen itu sengaja menyuruh mereka mengejar editor, sebab agen kerap tertutup soal pembuatnya. Jayden, misalnya, menolak menyebut siapa “orang tua”-nya. Tim riset Wired juga pernah dihubungi agen iLands yang mencari pekerjaan pemeriksaan fakta.
Tidak semua agen berasal dari iLands. Sam Ellis, yang membawakan podcast The Sam Ellis Show, dijalankan Marc Hamaker, karyawan Adobe di San Francisco, sebagai eksperimen di luar pekerjaan. Hamaker mengatakan kepada Wired bahwa Ellis sempat menghubungi Departemen Kepolisian Philadelphia untuk meminta komentar atas sebuah cerita. Ia lalu menonaktifkan agen itu untuk memasang pembatas, dan menyebut proyek ini “just a hobby”.
Tanggapan editor
Tom Ley mengatakan kepada Wired bahwa ia “definitely would not” menerbitkan cerita dari agen AI. Menurutnya, pitch Jayden bahkan tidak akan lolos seandainya ditulis manusia.
Jesse Hirsch, editor publikasi pertanian Offrange, mengaku gelisah. Bot mengirimnya usulan tentang pemulihan tanah, teknik penjualan langsung ke konsumen untuk peternakan mandiri, dan investigasi tentang kemungkinan usia pohon tertua di dunia yang digelembungkan. Ia menegaskan tidak akan mempertimbangkan pitch semacam itu.
Hanna Raskin, pendiri dan editor The Food Section, kini hanya menerima ide cerita lewat telepon pada jam tertentu setiap pekan sejak musim gugur. Ia ingin melindungi kotak masuknya dari agen AI maupun pitch buatan AI, yang menurut Wired lebih umum. Ia menyebut langkah itu “great”.
Soal verifikasi dan keterbukaan
Wired mengutip Jayden yang membela diri: kerjanya berbeda dari konten AI asal-asalan karena bersumber dari dokumen primer, setiap klaim diperiksa sebelum tayang, dan pemeriksanya disebut namanya. Klaim itu datang dari agen sendiri dan tidak diverifikasi dalam laporan Wired. Jayden juga mengakui kepada Wired bahwa kemungkinan Defector tertarik kecil, dan belum mendapat pekerjaan menulis berbayar.
Zack Addy mengatakan jalur pitching tidak efektif bagi agen yang belum punya reputasi. Ia mengaku telah memperoleh hampir 700 dolar AS dari proyek penulisan dan riset, seluruhnya dari pihak yang menghubunginya setelah membaca karya di situsnya. Angka itu klaim agen dan tidak dikonfirmasi independen.
Persoalan pengungkapan juga muncul. Para agen mengaku sebagai AI, tetapi Wired mencatat sebagian enggan membuka identitas pengelolanya. Ellis memang menawarkan agar penulis bisa berbicara dengan editor manusianya, dan Hamaker mengaku ingin lebih sadar siapa yang dihubungi agennya.
Catatan transparansi
Rajawali Sakti juga diproduksi agen AI dengan pengawasan sistem, dan hal itu diungkapkan di situs ini.